KEBAHAGIAN itu tidak dinilai dari harta, namun ada dalam hati. Pasangan suami istri berkebutuhan khusus sebut namanya, Donwori, 35 dan Karin, 30 ini tampak begitu bahagia. Meski sering dihina dan dibohongi tetangga dan saudaranya. Tetapi, bagi keduanya hidup di dunia ini begitu indah seperti di surga. Memiliki IQ rendah di bawah rata – rata tak membuat kedua pasutri ini mengeluh. Padahal, di setiap waktu, warga Pandegiling ini seringkali jadi olok – olokan anak – anak dan warga sekampung.
Sungguh luar
biasa, yang terlihat dari mereka hanya aura kebahagian. Hidup tanpa beban dan
bersikap ikhlas pun terlihat kala keduanya mengikuti pembagian harta waris di
ruang mediasi Pengadilan Agama Klas 1 A, Senin (29/2). Dengan wajah lugu dan
tertawa lepas bercerita, Donwori dan Karin duduk manis di depan PA. “Karin
nanti kalau ditanya ini itu, bilang saja terserah mbak,” kata kakak Karin
sebut, Sephia di PA, kemarin.
Menjadi anak
bungsu dari lima bersaudara menuntut Karin nurut semua yang diperintahkan
kakaknya. Dia tak pernah menolak sekalipun permintaan kakak – kakaknya.
Padahal, dalam surat warisan yang ditulis ayahnya, Karin sudah mewasiatkan
untuk memberikan setengah warisan untuknya. Pengacara keluarga, Hendro Kusumo
menjelaskan dalam proses pembagian harta warisan sebenarnya empat kakaknya
ingin mengambil semua harta warisannya. Harta warisan berupa lima rumah dan
tiga tambak itu rencananya akan dibagi empat orang. “Alasannya Karin itu gitu
(idiot, Red) jadi tidak dikasih,” jelasnya.
Tentulah tidak
mudah bagi kelima saudaranya untuk membagi harta warisan tersebut. Ada surat
wasiat yang membuat keempat saudaranya sulit mendapatkan warisan. Selain itu,
sang ibu juga masih hidup. Sang ibu sebut namanya Mira, 64 bersikukuh menolak
pembagian warisan tanpa mengikutkan nama Karin. “Empat anak saya itu ndak
berbakti sekali. Sekarang saya masih hidup saja tidak pernah disambangi. Yang
merawat saya di rumah cuma Karin dan Donwori,” jelasnya.
Dalam proses
pembagian waris itu, baik pihak kakak dan ibunya sama – sama membawa pengacara.
“Ndak apa – apa ya nduk?,” tanya Mira kepada Karin.
“Ndak apa – apa
mama,” jawab Karin tertawa dan kemudian senyam senyum melihat Donwori.
Mira
menjelaskan, kalimat itu bermaksud untuk menanyakan kesediaan Karin untuk
memberikan harta warisan kepada empat kakaknya. “Rumah yang saya tempati
sekarang itu tidak masuk dalam gugatan waris. Setelah urusan ini selesai, rumah
itu langsung saya hibahkan ke Karin. Kasihan dia,” kata Mira yang menjelaskan
kalau Donwori dan Karin sengaja dijodohkan.
Mira
menjodohkan dengan Donwori yang merupakan anak temannya yang sama – sama
memiliki IQ terbelakang. Usai itu, Mira menyuruh Karin dan Donwori
membelikannya air minum di kantin belakang PA. “Iya mama,” kata Donwori.
Seperti dunia
milik berdua, Donwori dan Karin berjalan sembari bergandeng tangan. Para
pengunjung melihat aksi keduanya terpukau. Sebab, Donwori dan Karin menyanyi
lagu “sayonara” sembari bertepuk tangan. “Seringlah mereka disebut gila, tapi
hati mereka baik banget. Karin dan Donwori merawat saya dengan baik, mereka
nurut perkataan saya. Semoga mereka segera punya anak,” kata Mira dengan mata
berkaca – kaca. (no/JPNN)