Thursday, 3 March 2016

Sering Ditipu Saudara, Hidup Pasangan Idiot Tetap Bahagia


KEBAHAGIAN itu tidak dinilai dari harta, namun ada dalam hati. Pasangan suami istri berkebutuhan khusus sebut namanya, Donwori, 35 dan Karin, 30 ini tampak begitu bahagia. Meski sering dihina dan dibohongi tetangga dan saudaranya. Tetapi, bagi keduanya hidup di dunia ini begitu indah seperti di surga. Memiliki IQ rendah di bawah rata – rata tak membuat kedua pasutri ini mengeluh. Padahal, di setiap waktu, warga Pandegiling ini seringkali jadi olok – olokan anak – anak dan warga sekampung.
Sungguh luar biasa, yang terlihat dari mereka hanya aura kebahagian. Hidup tanpa beban dan bersikap ikhlas pun terlihat kala keduanya mengikuti pembagian harta waris di ruang mediasi Pengadilan Agama Klas 1 A, Senin (29/2). Dengan wajah lugu dan tertawa lepas bercerita, Donwori dan Karin duduk manis di depan PA. “Karin nanti kalau ditanya ini itu, bilang saja terserah mbak,” kata kakak Karin sebut, Sephia di PA, kemarin.
Menjadi anak bungsu dari lima bersaudara menuntut Karin nurut semua yang diperintahkan kakaknya. Dia tak pernah menolak sekalipun permintaan kakak – kakaknya. Padahal, dalam surat warisan yang ditulis ayahnya, Karin sudah mewasiatkan untuk memberikan setengah warisan untuknya. Pengacara keluarga, Hendro Kusumo menjelaskan dalam proses pembagian harta warisan sebenarnya empat kakaknya ingin mengambil semua harta warisannya. Harta warisan berupa lima rumah dan tiga tambak itu rencananya akan dibagi empat orang. “Alasannya Karin itu gitu (idiot, Red) jadi tidak dikasih,” jelasnya.
Tentulah tidak mudah bagi kelima saudaranya untuk membagi harta warisan tersebut. Ada surat wasiat yang membuat keempat saudaranya sulit mendapatkan warisan. Selain itu, sang ibu juga masih hidup. Sang ibu sebut namanya Mira, 64 bersikukuh menolak pembagian warisan tanpa mengikutkan nama Karin. “Empat anak saya itu ndak berbakti sekali. Sekarang saya masih hidup saja tidak pernah disambangi. Yang merawat saya di rumah cuma Karin dan Donwori,” jelasnya.
Dalam proses pembagian waris itu, baik pihak kakak dan ibunya sama – sama membawa pengacara. “Ndak apa – apa ya nduk?,” tanya Mira kepada Karin.
“Ndak apa – apa mama,” jawab Karin tertawa dan kemudian senyam senyum melihat Donwori.
Mira menjelaskan, kalimat itu bermaksud untuk menanyakan kesediaan Karin untuk memberikan harta warisan kepada empat kakaknya. “Rumah yang saya tempati sekarang itu tidak masuk dalam gugatan waris. Setelah urusan ini selesai, rumah itu langsung saya hibahkan ke Karin. Kasihan dia,” kata Mira yang menjelaskan kalau Donwori dan Karin sengaja dijodohkan.
Mira menjodohkan dengan Donwori yang merupakan anak temannya yang sama – sama memiliki IQ terbelakang. Usai itu, Mira menyuruh Karin dan Donwori membelikannya air minum di kantin belakang PA. “Iya mama,” kata Donwori.
Seperti dunia milik berdua, Donwori dan Karin berjalan sembari bergandeng tangan. Para pengunjung melihat aksi keduanya terpukau. Sebab, Donwori dan Karin menyanyi lagu “sayonara” sembari bertepuk tangan. “Seringlah mereka disebut gila, tapi hati mereka baik banget. Karin dan Donwori merawat saya dengan baik, mereka nurut perkataan saya. Semoga mereka segera punya anak,” kata Mira dengan mata berkaca – kaca. (no/JPNN)

Wednesday, 2 March 2016

Kalau Marah, Istri Seret Suami Keliling Kampung


PUNYA istri pekerja keras memang membanggakan. Demikian yang dira sa kan Donwori, 45. Sayang nya, si istri sebut Sephia, 48 pu n ya sifat buruk yang menyakit kan. Apabila, kelelahan, Sephia menyeret Donwori keliling kampung.
Kebiasaan Sephia menyeret suaminya keliling kampung sudah tak asing lagi. Kebiasaan itu bahkan sudah terkenal seantero Menganti. “Istri saya itu memang gak bisa digarai. Itu sudah dari awal-awal kami menikah dulu,” kata Donwori di sela sela gugatan cerainya di Pengadilan Agama, Klas 1A Surabaya, Kamis (27/2).
Dengan wajah lugu dan sabarnya itu, Donwori tampak menguatkan hatinya. Karena memang, pertengkaran terakhir yang membuatnya dirawat di rumah sakit berakhir dengan gugatan cerai dari Sephia. Menurut Donwori, is trinya memang pencemburu dan memiliki temperamen yang cukup tinggi. Sudah tidak bisa dihitung berapa tetangga yang jadi santapan kemarahannya. Tidak terhitung pula dia jadi korban kemarahnya ketika dia kelelahan dalam bekerja.
Sephia bekerja di pabrik makanan ayam di daerah Mojosari. Berangkat jam 05.00 dan pulang pukul 20.00. Sementara Donwori bekerja pula di pabrik kawasan Perak Surabaya. Jarak tempuh kerja yang begitu jauh itulah yang membuat keduanya sama-sama capek dan kemudian tidur. “Kalau capek dia minta pijet, ya kadang saya pijetin. Tapi kalau saya yang minta pijet, aduh dia marahmarah. Akhirnya bertengkar,” jelasnya.
Ironisnya, Donwori selalu kalah dalam hal pertengkaran. Tenaga Sephia tampaknya lebih kuat dari Ade Rai. Buktinya, setiap kali bertengkar hingga terjadi tragedi perkelahian antara mereka, Donwori lah yang mengalah. “Istri saya tipenya kalau dilawan, dia nantang bunuh diri, kadang dia ngambil pisau. Daripada nanti dia mati, saya yang disalahkan. Ya mending saya yang dipukuli dan diseret keliling kampung,” jelasnya. Namun, bukan berarti Donwori tak melawan.
Menurut Donwori, dia sudah seringkali melakukan perlawanan namun karena ancaman itu, maka dia pun tak bisa membalas ketika istrinya melakukan kekerasan dalam rumah tangga. “Pasrah aja. Karena sering bertengkar, saya minta dia menggugat saya, alhamdulillah ia turuti,” tandasnya. (sumber:jpnn)